Perbincangan soal cinta, menjadi sangat menarik, terutama bagi remaja belasan tahun sampai memasuki kepala tiga. Betapa tidak, di usia ini sebagian orang mulai menyukai lawan jenis, sebagian lainnya sudah punya pasangan, sebagian lainnya setia menanti, sebagian lainnya khawatir terhadap jodohnya, sebagian lainnya bahkan sudah menikah dan mempunyai buah hati. Maka tak heran, jika obrolan soal cinta begitu menarik dan banyak diperbincangkan pada usia ini.
Ketika sedang berkumpul dengan teman misalnya, pertanyaan atau pernyataan soal cinta menjadi bahan obrolan yang tidak pernah ada habisnya. Satu sama lain saling menanyakan dan ditanyai soal perjalanan cintanya. Apa kamu juga merasa begitu? Yaa, bagi saya ini menjadi hal wajar. Sebab, di usia beranjak dewasa dan sudah dewasa ini memang masanya lekat dengan cinta.
Namun, menjadi tidak wajar jika di usia yang seharusnya sangat produktif ini menjadi galau memikirkan cinta. Sehari-harinya dipenuhi kegalauan tentang siapa jodohnya, bagaimana jika belum dapat jodoh di usia sekian, bagaimana agar setia dalam penantian, melihat teman sudah banyak yang menikah, galau karena lawan jenis yang disukainya ternyata bersama yang lain, dan masih banyak lagi.
Bahayanya adalah, jika kegalauan dan kekhawatiran ini sampai memenuhi pikiran. Sehingga, apa-apa yang menjadi kebaikan lain, yang seharusnya bisa lebih positif masuk ke dalam pikiran, menjadi tertahan oleh kegalauan tentang cinta. Kegalauan ini bisa menjadi wajar, jika hanya di simpan di dalam hati, dan tidak disebarkan kepada publik melalui media sosial dengan dalih mencurahkan isi hati.
Sebagian pemuda zaman sekarang dengan mudah menyebarkan kegalauannya, penantiannya, dan kekhawatirannya melalui media sosial. Bukan hanya akun pribadi saja yang berbicara soal cinta macam itu. Bahkan, akun-akun lain pun sengaja dibuat hanya untuk membicarakan soal cinta, dengan ribuan pengikutnya. Apa yang kita follow, apa yang kita baca, apa yang kita bagikan, jika terus menerus membicarakan soal cinta, maka pikiran kita juga hanya akan dipenuhi oleh hal itu.
Sayang sekali jika masa muda hanya dihabiskan untuk memikirkan dan mengkhawatirkan tentang cinta. Masing-masing dari kita memiliki fase yang sudah diatur oleh Pencipta, maka tak perlu terlalu dikhawatirkan, dan tak usah digalaukan. Masih banyak hal lain di luar sana yang lebih bermanfaat untuk dibahas. Masih banyak bacaan-bacaan yang lebih bermanfaat untuk dibaca. Masih banyak akun media sosial lain yang bermanfaat untuk di follow.
Di usia yang sangat produktif ini, seharusnya kita bisa lebih produktif dalam mengembangkan diri. Banyak hal lain yang bisa dilakukan bukan? Bisa dengan mengikuti komunitas tertentu, menekuni hobi, pertajam keilmuan, mencoba hal baru, membantu sesama, atau pergi sana-sini untuk menambah pengalaman misalnya. Kenapa harus melulu soal cinta? Padahal kita bisa berkarya. Ternyata persoalan cinta (tidak) selalu menarik ya?
Karena cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan...
BalasHapus