Tampilkan postingan dengan label cofee story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cofee story. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2018

Tak selamanya milk based, Kopi single origin wajib diicip




Kopi, sebuah kata benda yang magis dan juga makin kesohor sekarang ini. Betapa tidak, bukan soal gaya hidup saja. Tetapi kini kopi menjadi pengetahuan yang worth it untuk diketahui. Dan buat kamu yang mulai penasaran, sangat tidak salah untuk lebih menggalinya.
Terutama pemula, pasti cuman sekedar mampir ke coffee shop satu dan lainnya. Kopi yang dipesan pun tak akan jauh dari milk based, Latte atau Capuccion. Tak apa, itulah cara kalian menyesuaikan lidah yang biasa terpapar kopi sasetan hari baik. Ternyata, Based Capuccion tak semanis rasa-rasa kopi yang digunting, kan?
Atau kalian lebih tertarik dengan Latte Art karya baristanya? Apa yang menjadi favorit kalian? Bentuk Love, Tulip, Beruang, atau Angsa? Yang pasti apapun itu yang bisa foto-able buat di upload ke Instagram ya, kan. Apalagi ditambah foto pakai mirroless sambil pose ala-ala. Pokoknya jeprat-jepret buat memperapik feeds Instagram.
Oh, satu lagi, didukung tempat ngopi hasil googling—yang recommended atau instagram-able. Kan? Kan? Pokoknya dari situ kalian mulai memunculkan image “Anaknya teh kopi banget…”. Tapi giliran ditanya, kopi Arabica atau Single Origin malah tanya balik, “Itu apa ya?” Ha! Payah.
Sah-sah saja, toh itulah fase yang akan dialami oleh tiap pemula, termasuk aku—dulu. Well, sekarang juga masih, sih. Bedanya sekarang sedang dalam proses mengenal rasa tiap Single Origin dari Beans Nusantara (azek). Plus, akan balik lagi ke meja bar. Walau gak literally kerja di bar.
Tetapi kesempatan belajar nyeduh kopi itu datang dari perjalananku nyicip cangkir ke cangkir, kedai ke kedai, sampai akhirnya menemukan satu kedai kopi langganan yang sekaligus jadi tempat belajar. Jadi itulah kenapa belajar soal kopi itu ada sisi untungnya.
Meski disayangkan kopi belakangan ini jadi style yang menunjukkan sebuah kelas sosial sih. Karena mereka ingin merasakan gaya, bukan kopinya. Yang dibilang ngopi pun baik oleh kalangan muda dan tua, masih belum bisa move on dari kopi kapal yang musti digunting dulu, baru bisa diseduh. Huft.
Satu hal lainperlu kalian ketahui, bahwa Indonesia adalah negara kedua penghasil kopi tersebar di dunia setelah Brazil. Jadi, bayangkan, betapa kayanya perkebunan kopi kita di bandingkan negara lain? Namun, justru budaya ngopi—asli-nya masih jauh di antara kita. Miris memang.
Ini penting. Terutama kaum milenialis yang selalu menyisipkan style dalam apapun aktifitasnya. Well, sebutlah sebegai sentuhan kreatif. Jadi kenapa tidak kita memulai dari belajar  atau sedidaknya mengenal lebih lagi soal kopi? Kopi single origin.
Kopi asli dari daerah-daerah kita. Di barat ada Sumatera dan Jawa, di tengah ada Kalimatan, Sulawesi dan Bali sementara di timur ada Papua, NTT dan NTB. Ah, banyak. Contoh, di Jawa Barat disebut dengan Java Preanger.
Java Preanger adalah biji kopi yang berasal dari tanah Jawa Barat. Banyak sekali daerah penghasil kopi di Jabar seperti Lembang, Ciwidey, Manglayang, Garut, dan lainnya. Dan itu memiliki nama yang berbeda. Contohnya, di Lembang ada Guntur, Garut ada Banyombong. Itu menandakan lokasi kebun itu ada di wilayah mana.
Beda wilayah, beda kontur tanah, ketinggian dan sebagainya. Itu mempengaruhi rasa kopinya sendiri. Kita bisa bicara soal after taste, alat seduh apa yang dipakai, rasa apa yang ingin ditonjolkan atau diciptakan. With coffee, everything can be possible. Dan panjang sekali kalau aku rincikan, betapa kaya sekali pengetahuan soal kopi. Karena itu masih soal biji, belum ke alat, teknik, roasting, dan kawannya.
Okay, tenang, jangat takut kalau ngulik kopi itu membingungkan karena saking banyaknya item yang harus kalian pelajari dan juga ingat. Terpenting adalah selami semua itu secara perlahan. Seiring dengan rasa tertarik, kalian tidak akan merasa bosan. Malah akan semakin penasaran dan ingin tahu banyak.
Poinnya adalah aku mengajak untuk mengenal kopi dari tanah sendiri. Ingat, karena kopi tak melulu soal look. Latte Art hanya seni menggambar diatas foam susu sudah membaur dengan ekspresso. Kita bisa menikmati cantiknya bentuk itu hanya sekitar 5 menitan.
Bagaimana kalian bisa mengenal kalau melulu kopi dicampur susu? Bukan tidak boleh, tapi yuk beralih ke Single Origin. Sebab, dari situ kalian akan tahu, betapa kayanya negeri ini sampai ke taraf biji kopinya. Kaya akan rasa. Bersyukurlah untuk itu. But first, taste Single Origin-Coffee.
continue reading Tak selamanya milk based, Kopi single origin wajib diicip

Sabtu, 01 Desember 2018

Sudahkah kau menengguk kopi?




Sebaik-baiknya kopi yang kamu buat, kopi tetap mempunyai sisi pahitnya” ujar Dewi Lestari dalam cerita pendeknya yang berjudul Filosofi Kopi. Yah kopi memang minuman yang penuh sejarah, minuman yang melanglang buana ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Kopi pertama kali masuk ke Indonesia di bawa oleh salah satu jenderal dari Belanda yaitu Jenderal Adrian Van Ommen, saat itu dia membawa jenis kopi Arabika, pada tahun 1696 di Batavia atau sekarang Jakarta.

Pada saat kopi sudah menyebar di Nusantara khususnya di jawa, Belanda memanfaatkanya sebagai salah satu bahan prioritas ekspor. Kopi bagi para orang Jawa dulu dianggap sebagai minuman kaum Borjuis, kaum menengah atas yang hanya di minum oleh jenderal-jenderal belanda dan para Meeniir. bagi pribumi kopi merupakan minuman emas, lantas warga pribumi pun memutar otak bagaimana menikmati secangkir kopi tersebut, dipungutlah kotoran-kotoran hewan Luwak yang sering kali memakan biji-biji kopi petani. Beruntungya luwak tahu betul mana kopi yang berkualitas bagus dan matang. Setelah mengambil biji kopi tersebut para petani mulai membersihkan biji kopi dari kotoran luwak dan menjemurnya, lantas ditumbuk menjadi serbuk lalu diseduh dengan air panas, dan jadilah kopi luwak yang terkenal tersebut.

Pada masa ini harga secangkir kopi luwak di benua sebrang sana bisa mencapai 35 USD sampai 100 USD atau sekitar 1,4 juta percangkirnya sesuai kualitas. Indonesia sebagai Negara produsen biji kopi terbanyak ke-4 di dunia, lantas tidak membuat warga Indonesia maniak kopi, tapi Finlandia lah yang menurut data sebagai Negara paling menggemari kopi.

Indonesia memang tidak maniak kopi, tetapi tahun ke tahun data menunjukan warga Indonesia meningkat terus akan kegemaran pada kopi ini. Bisa kita lihat dari meningkatnya kafe-kafe, atau kedai-kedai kopi yang beranak pinak, dengan dibalut interior classic dan vintage menimbulkan kesan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung, apalagi dengan disokong dengan fasilitas Wifi yang cepat.

Tetapi dalam fenomena tersebut menunjukan ada 3 tipikal pengunjung kopi yang datang ke kafe-kafe atau kedai kopi, pertama, orang-orang yang memang sangat menyukai kopi dan memang maniak pada kopi. Kedua, orang-orang yang datang ke tempat tersebut hanya mencari kenyamanan tersendiri untuk sekedar mengobrol bersama sahabat, atau untuk berkerja. Ketiga, orang-orang yang punya hasrat narsisme tinggi, yaitu mencari kafe yang berdesain ciamik lalu berswafoto dengan kawannya, lantas memfoto makanan atau minuman yang lalu di unggah ke Instagram atau bahkan hanya untuk mencari Wifi cepat untuk berseluncur di dunia maya.

Tak ada yang salah dari fenomena tersebut, justru bagi para pemilik kafe merasa senang karena banyak pengunjung yang datang dan membeli makanan dan minumannya. Mari kita kesampingkan hal tersebut dan mulai melihat salah satu Negara di eropa yaitu Italia. Italia juga mempunyai kegilaan yang sama terhadap kopi, bahkan sebuah berita di Tirto.co Italia mempunyai 3 hal yang dipuja, pertama, Paus (tokoh agama) kedua, makanan (pasta dan pizza) dan ketiga, kopi. Bahkan banyak kata-kata di Italia sana yang menunjukan kegilaan mereka akan khususnya makanan dan Kopi, “Life is a combination of magic and pasta.”  Ujar salah satu artis italia di sana, ada juga tak kalah menarik “La Vitta Iniza Dopo Il Caffee.” Hidup dimulai setelah secangkir kopi.

Italia memang tak bisa lepas dari kopi, sama halnya dengan Indonesia, beruntunglah kalian yang suka kopi dan ngopi, karena budaya tersebut sama dengan budaya di Italia sana. Cuma bedanya di Italia sana mereka menikmati kopi dengan berbincang-bincang dengan suguhan roti khas italia sana, di Indonesia kebanyakan kopi di nikmati dengan di cangkiri bekas Aqua gelas, dan tak lepas dari tangan kanan memegang sebatang rokok, dan tangan kiri yang memegang Handphone sambil mengecek seberapa banyak love yang muncul di Instagram masing-masing.

Tak apa, setiap budaya mempunyai cirinya masing-masing, akan aku akhiri tulisan ini dengan quote dari penulis buku Distilasi Alkena, “Bila akhirnya bukan aku yang kau pilih di pelaminan. Setidaknya, kopi kita pernah bersanding di satu meja berbagi perasaan.”
continue reading Sudahkah kau menengguk kopi?