Sudahkah kau menengguk kopi?
Sebaik-baiknya kopi yang kamu buat, kopi tetap mempunyai sisi pahitnya” ujar Dewi Lestari dalam cerita pendeknya yang berjudul Filosofi Kopi. Yah kopi memang minuman yang penuh sejarah, minuman yang melanglang buana ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Kopi pertama kali masuk ke Indonesia di bawa oleh salah satu jenderal dari Belanda yaitu Jenderal Adrian Van Ommen, saat itu dia membawa jenis kopi Arabika, pada tahun 1696 di Batavia atau sekarang Jakarta.
Pada saat kopi sudah menyebar di Nusantara khususnya di jawa, Belanda memanfaatkanya sebagai salah satu bahan prioritas ekspor. Kopi bagi para orang Jawa dulu dianggap sebagai minuman kaum Borjuis, kaum menengah atas yang hanya di minum oleh jenderal-jenderal belanda dan para Meeniir. bagi pribumi kopi merupakan minuman emas, lantas warga pribumi pun memutar otak bagaimana menikmati secangkir kopi tersebut, dipungutlah kotoran-kotoran hewan Luwak yang sering kali memakan biji-biji kopi petani. Beruntungya luwak tahu betul mana kopi yang berkualitas bagus dan matang. Setelah mengambil biji kopi tersebut para petani mulai membersihkan biji kopi dari kotoran luwak dan menjemurnya, lantas ditumbuk menjadi serbuk lalu diseduh dengan air panas, dan jadilah kopi luwak yang terkenal tersebut.
Pada masa ini harga secangkir kopi luwak di benua sebrang sana bisa mencapai 35 USD sampai 100 USD atau sekitar 1,4 juta percangkirnya sesuai kualitas. Indonesia sebagai Negara produsen biji kopi terbanyak ke-4 di dunia, lantas tidak membuat warga Indonesia maniak kopi, tapi Finlandia lah yang menurut data sebagai Negara paling menggemari kopi.
Indonesia memang tidak maniak kopi, tetapi tahun ke tahun data menunjukan warga Indonesia meningkat terus akan kegemaran pada kopi ini. Bisa kita lihat dari meningkatnya kafe-kafe, atau kedai-kedai kopi yang beranak pinak, dengan dibalut interior classic dan vintage menimbulkan kesan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung, apalagi dengan disokong dengan fasilitas Wifi yang cepat.
Tetapi dalam fenomena tersebut menunjukan ada 3 tipikal pengunjung kopi yang datang ke kafe-kafe atau kedai kopi, pertama, orang-orang yang memang sangat menyukai kopi dan memang maniak pada kopi. Kedua, orang-orang yang datang ke tempat tersebut hanya mencari kenyamanan tersendiri untuk sekedar mengobrol bersama sahabat, atau untuk berkerja. Ketiga, orang-orang yang punya hasrat narsisme tinggi, yaitu mencari kafe yang berdesain ciamik lalu berswafoto dengan kawannya, lantas memfoto makanan atau minuman yang lalu di unggah ke Instagram atau bahkan hanya untuk mencari Wifi cepat untuk berseluncur di dunia maya.
Tak ada yang salah dari fenomena tersebut, justru bagi para pemilik kafe merasa senang karena banyak pengunjung yang datang dan membeli makanan dan minumannya. Mari kita kesampingkan hal tersebut dan mulai melihat salah satu Negara di eropa yaitu Italia. Italia juga mempunyai kegilaan yang sama terhadap kopi, bahkan sebuah berita di Tirto.co Italia mempunyai 3 hal yang dipuja, pertama, Paus (tokoh agama) kedua, makanan (pasta dan pizza) dan ketiga, kopi. Bahkan banyak kata-kata di Italia sana yang menunjukan kegilaan mereka akan khususnya makanan dan Kopi, “Life is a combination of magic and pasta.” Ujar salah satu artis italia di sana, ada juga tak kalah menarik “La Vitta Iniza Dopo Il Caffee.” Hidup dimulai setelah secangkir kopi.
Italia memang tak bisa lepas dari kopi, sama halnya dengan Indonesia, beruntunglah kalian yang suka kopi dan ngopi, karena budaya tersebut sama dengan budaya di Italia sana. Cuma bedanya di Italia sana mereka menikmati kopi dengan berbincang-bincang dengan suguhan roti khas italia sana, di Indonesia kebanyakan kopi di nikmati dengan di cangkiri bekas Aqua gelas, dan tak lepas dari tangan kanan memegang sebatang rokok, dan tangan kiri yang memegang Handphone sambil mengecek seberapa banyak love yang muncul di Instagram masing-masing.
Tak apa, setiap budaya mempunyai cirinya masing-masing, akan aku akhiri tulisan ini dengan quote dari penulis buku Distilasi Alkena, “Bila akhirnya bukan aku yang kau pilih di pelaminan. Setidaknya, kopi kita pernah bersanding di satu meja berbagi perasaan.”

0 komentar:
Posting Komentar