Judul Buku : Meraih Kebahagiaan
Penulis
: Jalaluddin Rakhmat
Editor
: Rema Karyati.S
Desain
Sampul : Iman Taufik
Layout
: Dedi Junaidi
Penerbit
: Simbiosa Rekatama Media
Cetakan
: 5 Oktober 2009
Tebal
:203 Halaman
Kebahagiaan dan penderitaan merupakan
dua pilihan manusia dalam kehidupanya. 99% dari seluruh manusia akan memilih
kata kebahagiaan dari pada penderitaan. Kebahagian merupakan tujuan hidup
manusia ujar seorang filosof yunani_Aristoteles. Kebahagian juga merupakan
fitrah manusia hingga tak ada satupun manusia yang menginginkan hidup
menderita.
Aristoteles menceritakan sebuah kisah
menarik dalam mengungkapkan kebahagiaan. Kala itu ada seorang yang sangat bijak
bernama Creosus, dia juga seorang raja yang kaya dan memiliki tahta dan
singgahsana yang megah. Suatu hari raja Creocus menempuh perjalanan dengan
berjalan kaki untuk melihat keadaan masyarakat. Pada perjalanannya beliau
bertemu dengan satu warganya yang bernama solon. Dengan senang hati solon
mengajak baginda raja Creocus untuk bersinggah ke rumahnya. Setelah berbicara
panjang lebar raja bertanya sesuatu kepada solon “wahai solon dari banyak orang
yang engkau saksikan siapakah diantara mereka yang paling bahagia?”. Tanpa
berfikir panjang solon langsung menjawab “ tellu dari athena naginda”.
Raja creous terkejut dengan jawaban
solon hingga beliau bertanya dengan sangat keras “mengapa kamu menganggap
tellus adalah orang yang paling bahagia?” dengan tenang solon menjawab
pertanyaan sang raja “pertama, karena negrinya makmur pada zamanya, tellus
memiliki anak laki-laki yang tampan dan baik, beliau sempat hidup dan sempat
menyaksikan cucu-cucunya. Selanjutnya setelah beliau menjalani hidupnya dengan
bahagia beliau menemui ajalnya dalam keadaan mulia. Dalam pertempuran melawan
tetangganya di dekat aleusis, ia meninggal secara terhormat di medan perang.
Orang athena memberikan penghormatan yang setinggi-tinginya dalam pemakamanya”.
Raja akhirnya bertanya kembali “ apakah kebahagiaanku begitu kecil sehingga
kamu tidak meletakanya pada tingkat yang sama dengan orang-orang biasa? Solon
kembali menjawab “ mengenai pertanyaanmu aku tidak bisa memiliki jawaban
kecuali anda telah menutup hidup anda dalam keadaan bahagia.
Kebahagiaan yang kekal atau abadi adalah
kebahagian yang kita rasakan setelah kita meninggal. Ada dua tipe kebahagian
dalam kehidupan manusia. Pertama, kebahagiaan yang bersifat episode_
kebahagiaan yang berupa kesenagan-keenangan, kebaikan-kebaikan yang kita
kumpulkan dalam kehidupan ini. Kedua yaitu kebahagiaan yang berbentuk sikap kebahagiaan yang diukur
setelah kita meninggal.
Jalaluddin Rakhmat seorang penulis buku
meraih kebahagiaan ini mengungkapkan bahwa kebahagiaan itu bersifat subyektif
bukan obyektif. Dalam buku ini banyak para filosof yang mengungkap kebahagiaan.
Karena banyak yang berangkat dari latar belakang filsafat dan psikolog maka
berbeda-beda pendapat dalam mendefinisikan kebahagiaan hingga sangat sulit
pembaca untuk memahami kebahagiaan itu sendiri.
Namun buku ini sangat mudah dibaca
karena penulis mengungkapkan dengan sebuah cerita-cerita yang menarik dan
sering dialami oleh kehidupan manusia .Agar pembaca meraih kebahagian yang
benar-benar kebahagiaan maka perlulah membaca buku manis berjudul meraih
kebahagiaan karangan Jalaluddin Rakhmat ini.
Buku setebal 203 halaman ini memaparkan
tentang filosofi kebahagiaan. Buku ini membahas kebahagiaan melalui sudut
pandang agama, filsafat, ilmu pengetahuan, serta makna yang sebenarnya tentang
kebahagiaan.
Melalui buku ini, kita disadarkan bahwa
kebahagiaan bukan datang dari keberuntungan melainkan dari dalam diri sendiri.
Kebahagian ataupun penderitaan adalah pilihan yang kita tentukan. Kebahagiaan
bukan terletak pada pemilikan uang semata, tetapi terletak pada kegembiraan
pencapaian, karena kebahagiaan adalah kewajiban moral dan juga agama. Kita
wajib memilih bahagia berdasarkan perintah Tuhan. Berusaha hidup bahagia adalah
mengemban misi mulia agama, apapun namanya.
Kita akan bahagia jika dalam pandangan
kita tidak ada bedanya antara hidup dan mati, penjara dan istana, miskin dan
kaya, racun dan madu. Para psikolog menunjukkan bahwa dalam keadaan bahagia
orang-orang juga lebih penyayang, lebih senang membantu, lebih dermawan.

0 komentar:
Posting Komentar